Pencarian

Karhutla Way Kambas Lampung Capai 700 Hektare, Water Bombing Dikerahkan Padamkan Titik Api Baru di Rantau Jaya

Rabu, 26 Agustus 2026 • 14:10:31 WIB
Karhutla Way Kambas Lampung Capai 700 Hektare, Water Bombing Dikerahkan Padamkan Titik Api Baru di Rantau Jaya
Tim gabungan memadamkan titik api baru di Resort Rantau Jaya, kawasan Taman Nasional Way Kambas, Rabu (26/8/2026).

BANDAR LAMPUNG — Tim gabungan pengendali kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali dikerahkan ke Resort Rantau Jaya, kawasan perbatasan Kabupaten Lampung Timur dan Lampung Tengah. Satu titik panas baru muncul di lokasi itu pada Rabu (26/8/2026) pagi, menambah daftar panjang area terdampak yang kini menembus angka 700 hektare.

Kepala Balai TNWK, MHD Zaidi, menyatakan tim sudah bergerak ke lokasi untuk memastikan titik api sekaligus mengambil koordinat. Data tersebut menjadi dasar pelaksanaan operasi pemadaman melalui udara.

"Pagi ini kita menemukan satu hotspot di Resort Rantau Jaya. Tim sudah mengecek lokasi untuk pengambilan koordinat dan setelah itu akan kita lakukan operasi water bombing hari ini," kata Zaidi, Rabu (26/8/2026).

Luasan Terdampak Capai 700 Hektare Lebih

Akumulasi karhutra di TNWK terjadi dalam beberapa gelombang. Kebakaran pertama melanda Desa Braja Harjosari pada 21-22 Agustus, menghanguskan sekitar 673,54 hektare. Api baru bisa dijinakkan setelah sekitar 250 personel gabungan dikerahkan ke lapangan.

Personel tersebut berasal dari Balai TNWK, TNI, Polri, pemerintah daerah, Masyarakat Peduli Api (MPA), Masyarakat Mitra Polhut, Kelompok Tani Hutan (KTH), serta warga sekitar taman nasional.

Gelombang kedua terjadi pada 23 Agustus di Desa Braja Luhur. Pada 24 Agustus, api kembali muncul di Resort Rantau Jaya, namun berhasil dipadamkan dalam waktu tiga hingga empat jam dengan luas terdampak sekitar 6,2 hektare.

Vegetasi yang Terbakar Masih di Zona Aman

Zaidi memastikan kebakaran sejauh ini belum merambat ke kawasan hutan primer maupun sekunder. Mayoritas vegetasi yang terbakar adalah alang-alang dan semak belukar yang mudah menyala di musim kemarau.

"Alhamdulillah sampai saat ini hutan primer maupun hutan sekunder kita belum ada yang terbakar. Jadi masih semak dan alang-alang," ujarnya.

Meski demikian, kondisi lapangan membuat pemadaman tidak mudah. Sejumlah sumber air yang biasa diandalkan, termasuk kawasan rawa, telah mengering. Tim hanya bisa mengandalkan air dari sungai, sementara sejumlah titik api tidak bisa dijangkau kendaraan roda empat.

Kendala Lapangan: Sumber Air Kering dan Angin Kencang

"Biasanya kami bisa masuk menggunakan mobil double cabin atau mobil tempur. Pada lokasi yang terbakar sekarang tidak bisa. Jadi harus menyeberang sungai dan berjalan kaki," jelas Zaidi.

Cuaca panas dengan hembusan angin kencang membuat pergerakan api sangat cepat. Petugas tidak bisa memadamkan dari arah depan karena lidah api dan asap tinggi membahayakan keselamatan. Dari arah belakang, api bergerak lebih cepat dari jangkauan petugas.

Karena itu, pemadaman manual lebih efektif dilakukan sore hingga malam hari. Pada siang hari, tim menggunakan pompa alkon untuk mengendalikan titik api yang memungkinkan dijangkau, meski peralatan yang tersedia terbatas.

"Selain jumlah pompa, ketersediaan selang juga terbatas. Peralatan dan selang yang dimiliki masih kurang untuk menjangkau seluruh titik," imbuhnya.

Sejauh ini, sebanyak 17 kali water bombing telah dilakukan pada Selasa (25/8/2026). Operasi serupa akan dilanjutkan untuk proses pendinginan sekaligus mengantisipasi potensi kebakaran di kawasan rawan lainnya.

Follow www.lampungvoice.com

Add this site to your preferred sources on Google

Add to preferred sources
Bagikan
Sumber: kupastuntas.co

This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.

Berita Lainnya

Indeks

Pilihan

Indeks

Berita Terkini

Indeks