LAMPUNG BARAT — Empat kecamatan di Kabupaten Lampung Barat masuk zona risiko tinggi terhadap kekeringan dan karhutla saat fenomena El Nino menguat pada 2026. BPBD Lampung Barat mengidentifikasi wilayah-wilayah tersebut berdasarkan Dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) kabupaten setempat.
Kepala Pelaksana BPBD Lampung Barat, Padang Priyo Utomo, menyebut keempat kecamatan itu adalah Balik Bukit, Bandar Negeri Suoh (BNS), Suoh, dan Pagar Dewa. Pemetaan ini menjadi dasar bagi pemerintah daerah, TNI-Polri, hingga unsur terkait untuk memperkuat koordinasi dan langkah antisipasi sejak dini.
Mengapa Istilah El Nino 'Godzilla' Dipakai?
Padang menjelaskan, istilah El Nino "Godzilla" merujuk pada kondisi El Nino super kuat yang pernah melanda Indonesia pada 1982-1983, 1997-1998, dan 2015-2016. Pengalaman historis tersebut menjadi alasan utama pemerintah daerah meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak serupa.
"Dalam dokumen Executive Summary El Nino 'Godzilla' Tahun 2026, istilah tersebut digunakan untuk menggambarkan kondisi El Nino yang sangat kuat atau super El Nino," kata dia, Rabu (26/8/2026).
El Nino sendiri bukan bencana, melainkan fenomena iklim yang dapat memicu penurunan curah hujan signifikan. Akibatnya, musim kemarau berpotensi berlangsung lebih panjang dari normal, yang kemudian memicu kekeringan, krisis air bersih, gangguan pertanian, hingga meningkatnya risiko karhutla.
Krisis Air Bersih Jadi Ancaman Pertama
Dampak paling awal yang diantisipasi adalah berkurangnya ketersediaan air. Penurunan debit sungai, embung, dan sumber air lainnya dapat menyulitkan masyarakat memenuhi kebutuhan harian, termasuk untuk rumah tangga, sekolah, dan fasilitas kesehatan.
Pemerintah kecamatan diminta memastikan ketersediaan air bersih di fasilitas umum. Setiap pekon juga diarahkan melakukan pendataan sumber air yang masih berfungsi, seperti sumur bor, embung, sungai, atau sumber alternatif lainnya.
"Pendataan tersebut diperlukan agar pemerintah memiliki gambaran yang jelas mengenai sumber air yang dapat dimanfaatkan ketika kondisi kekeringan mulai terjadi," ujar Padang.
Inventarisasi Pompa Air dan Titik Distribusi
BPBD juga meminta dilakukan inventarisasi peralatan pendukung, termasuk alkon atau pompa air di masing-masing pekon. Data tersebut nantinya disampaikan kepada BPBD melalui kecamatan sebagai dasar penentuan lokasi distribusi air bersih.
Pemerintah diminta menetapkan titik-titik distribusi air bersih sejak sekarang, sebelum masyarakat benar-benar mengalami kesulitan mendapatkan air. Langkah ini dinilai krusial agar respons saat darurat bisa berjalan cepat dan tepat sasaran.
Ancaman Gagal Panen dan Karhutla
Sektor pertanian menjadi perhatian berikutnya. Kemarau panjang berpotensi menyebabkan gagal tanam maupun gagal panen jika ketersediaan air untuk lahan tidak mencukupi. Tanaman pangan seperti padi dan jagung serta komoditas hortikultura dapat mengalami penurunan produktivitas.
"Kondisi lahan yang kering juga berpotensi meningkatkan serangan hama tertentu," imbuh Padang.
Sementara itu, ancaman karhutla menjadi perhatian serius karena vegetasi kering membuat api lebih mudah muncul dan menyebar. Pemerintah kecamatan diminta memperkuat sosialisasi kepada masyarakat, khususnya petani, untuk mencegah pembukaan lahan dengan cara membakar.
Langkah Kesiapsiagaan Sebelum Dampak Muncul
Padang menegaskan kesiapsiagaan tidak boleh menunggu dampak El Nino muncul. Pemerintah daerah perlu memperbarui data wilayah rawan, mengaktifkan posko pemantauan, menyiapkan sumber air alternatif, menyusun rencana kontinjensi kekeringan dan karhutla, serta menyiapkan dukungan anggaran jika kondisi darurat terjadi.
Surat Sekretariat Daerah Kabupaten Lampung Barat tertanggal 19 Mei 2026 telah ditujukan kepada seluruh camat agar melakukan pemetaan wilayah rawan sekaligus memperkuat koordinasi menghadapi kemungkinan dampak fenomena iklim tersebut. Dari total 15 kecamatan di Lampung Barat, empat wilayah dengan risiko tinggi menjadi prioritas penanganan pertama.