BANDAR LAMPUNG — Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas erupsi yang cukup intensif. Dalam pengamatan 24 jam terakhir, tercatat 17 kali letusan yang terekam baik secara visual maupun melalui seismograf.
Rinciannya, delapan erupsi terjadi sejak Selasa pagi hingga malam, disusul sembilan erupsi berikutnya pada Selasa malam hingga Rabu pagi. Aktivitas ini menegaskan status gunung yang masih fluktuatif dan perlu diwaspadai.
Rekaman Seismograf Mendominasi Pengamatan Malam Hari
Petugas Pos Pemantauan Gunung Anak Krakatau, Andi Suwardi, mengatakan beberapa erupsi tidak teramati secara visual karena terjadi saat kondisi gelap. "Sejak Selasa malam sampai Rabu pagi, tercatat sembilan kali erupsi. Beberapa erupsi tidak teramati secara visual karena terjadi pada malam hari," ujarnya, Rabu (26/8/2026).
Erupsi pertama malam itu terekam pukul 21.19 WIB dengan amplitudo maksimum 54 milimeter dan durasi 24 detik. Disusul letusan pukul 22.36 WIB yang amplitudonya lebih besar, yakni 58 milimeter dengan durasi 25 detik.
Memasuki Rabu dini hari, aktivitas masih berlanjut. Tercatat erupsi pada pukul 00.33 WIB dengan amplitudo 38 milimeter dan durasi 14 detik. Kemudian pukul 01.32 WIB, amplitudo mengecil menjadi 20 milimeter dengan durasi 24 detik.
Dua Erupsi Beruntun dan Kolom Abu Pagi Hari
Dua letusan lainnya terjadi berdekatan pada pukul 02.52 WIB dan 02.59 WIB. Saat laporan dibuat, parameter kedua erupsi itu belum tercatat lengkap karena jaraknya terlalu dekat.
"Karena jarak antarerupsi cukup dekat, ada aktivitas yang belum sempat terekam secara lengkap oleh seismograf. Namun aktivitas erupsinya tetap kami pantau," kata Andi.
Memasuki pagi hari, letusan mulai terlihat secara visual. Pada pukul 06.03 WIB, erupsi menghasilkan kolom abu setinggi 150 meter di atas puncak atau sekitar 307 meter di atas permukaan laut. Kolom abu kelabu dengan intensitas sedang hingga tebal bergerak ke arah barat dan barat laut.
Puncaknya terjadi pada pukul 07.00 WIB. Kolom abu teramati mencapai 250 meter di atas puncak atau sekitar 407 meter di atas permukaan laut. Abu berwarna kelabu hingga hitam dengan intensitas tebal kembali bergerak ke arah barat dan barat laut.
Pemantauan Intensif Terus Dilakukan
Andi menegaskan, rangkaian erupsi ini menunjukkan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih cukup dinamis. Pemantauan pun dilakukan terus-menerus, tidak hanya mengandalkan pengamatan visual.
"Yang perlu diperhatikan bukan hanya erupsi yang terlihat secara visual, tetapi juga aktivitas yang terekam oleh seismograf. Karena itu, pemantauan dilakukan terus-menerus," jelasnya.
Masyarakat pesisir di sekitar Selat Sunda diimbau tetap tenang namun waspada, serta mematuhi rekomendasi dari pusat vulkanologi terkait radius aman dari kawah aktif.