BANDAR LAMPUNG — Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Lampung Aswarodi menyatakan rapat koordinasi digelar untuk menyamakan langkah seluruh pemangku kepentingan dalam menghadapi potensi bencana, baik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun kondisi cuaca pada masa pancaroba.
Berdasarkan pemaparan PVMBG, aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau saat ini merupakan bagian dari karakteristik gunung api yang sedang berkembang. Yang menjadi perhatian utama adalah potensi sebaran abu vulkanik.
Aswarodi menyebut laporan BPBD Lampung Selatan dan relawan di Pulau Sebesi menunjukkan sebaran abu vulkanik masih dalam kondisi aman. Abu belum mencapai Desa Tejang, Pulau Sebesi.
Status Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Masyarakat, nelayan, maupun wisatawan diimbau tidak mendekati kawasan gunung api dalam radius lima kilometer dari kawah.
"Berdasarkan informasi dari PVMBG dan laporan BPBD Lampung Selatan serta relawan di Pulau Sebesi, sebaran abu vulkanik saat ini masih dalam kondisi aman dan belum mencapai Desa Tejang, Pulau Sebesi," ujar Aswarodi.
Dalam rakor, BPBD Kabupaten Lampung Selatan mengusulkan pemasangan rambu-rambu peringatan bagi masyarakat dan pengunjung agar tidak memasuki kawasan berbahaya. Usulan itu telah mendapat respons PVMBG untuk segera ditindaklanjuti.
Andi Suhardi, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan pada periode sebelumnya, menjelaskan bahwa Anak Krakatau merupakan gunung api muda yang masih mengalami proses pertumbuhan dan perkembangan melalui fase konstruksi dan destruksi secara berulang.
Aktivitas erupsi, menurutnya, merupakan bagian dari karakteristik gunung tersebut dalam melepaskan energi vulkanik. Kondisi itu berbeda dengan peristiwa letusan dahsyat pada 1883.
Rakor juga membahas kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi seiring masuknya masa pancaroba dan musim penghujan. BPBD Provinsi Lampung bersama BPBD kabupaten/kota akan meninjau kondisi saluran air dan drainase, terutama pada titik yang berpotensi menimbulkan genangan maupun banjir.
Peninjauan dilakukan sesuai kewenangan masing-masing, termasuk berkoordinasi terkait infrastruktur yang menjadi kewenangan pemerintah pusat.
"Kami akan turun meninjau saluran-saluran air yang menjadi kewenangan provinsi dan nasional. Sementara itu, untuk kewenangan kabupaten/kota, kami meminta Kalaksa BPBD masing-masing melakukan peninjauan agar seluruh saluran air dapat berfungsi dengan baik dan potensi banjir bisa diantisipasi," jelas Aswarodi.
Pemaparan BMKG menyoroti sejumlah wilayah bertopografi dataran yang perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi angin kencang hingga puting beliung selama masa pancaroba. Wilayah itu meliputi Bandar Lampung, Metro, Lampung Timur, Lampung Selatan, dan Lampung Tengah.
Pemprov Lampung akan mendorong penerbitan imbauan Gubernur kepada bupati/wali kota agar mengajak masyarakat bergotong royong membersihkan selokan dan drainase. Warga juga diminta memastikan kondisi atap rumah tetap kuat menghadapi potensi angin kencang.
Pesan Gubernur Lampung yang disampaikan Aswarodi menekankan kesiapsiagaan mandiri dengan mengenali potensi ancaman di lingkungan tempat tinggal. Warga di sekitar sungai, tebing, maupun pepohonan besar diminta lebih waspada, dan pohon tua yang berpotensi tumbang perlu segera ditangani.
"Pak Gubernur berpesan agar seluruh masyarakat siap menghadapi bencana dan tidak lengah. Salah satu bentuk kesiapsiagaan adalah menyiapkan tas siaga bencana yang ditempatkan di lokasi mudah dijangkau, sehingga ketika terjadi bencana masyarakat dapat segera menyelamatkan diri," katanya.
Aswarodi mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi atau hoaks terkait aktivitas Gunung Anak Krakatau maupun potensi bencana lainnya. Informasi resmi dapat diakses melalui kanal Pusdalops BPBD Provinsi Lampung, PVMBG, dan BMKG.