BANDAR LAMPUNG — Dalam forum yang mempertemukan pengurus pusat dan daerah gerakan kepemudaan dari berbagai wilayah, Gubernur Lampung memaparkan persoalan lama yang belum tuntas: daerah penghasil sumber daya alam belum sepenuhnya menikmati nilai tambah dari komoditas yang dihasilkan. Sebagian hasil produksi masih dijual dalam bentuk bahan mentah. Sementara proses pengolahan dan keuntungan ekonominya lebih banyak dinikmati di luar daerah.
Kondisi itu, menurut Mirza, turut membatasi peluang usaha dan lapangan kerja di desa. Akibatnya banyak generasi muda memilih pergi ke kota untuk mencari penghidupan.
Mirza menyoroti ketimpangan itu sebagai persoalan mendasar. Potensi desa, katanya, seharusnya menjadi sumber kesejahteraan masyarakatnya sendiri, bukan sekadar pemasok bahan baku bagi wilayah lain.
"Potensi desa harus bisa menjadi sumber kesejahteraan masyarakatnya. Jangan sampai kita menghasilkan bahan baku, tetapi nilai tambah dan kesempatan kerja justru tercipta di daerah lain," ujar Mirza.
Ia menilai arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto perlu diperkuat melalui pemerataan aktivitas ekonomi, peningkatan kesejahteraan petani, dan penciptaan ekosistem usaha hingga ke perdesaan. Ketika pendapatan masyarakat desa meningkat dan aktivitas ekonomi tumbuh, manfaatnya merembes lebih luas — dari petani, pedagang, pelaku usaha kecil, hingga tenaga kerja lokal.
Gubernur secara khusus menyoroti potensi pertanian dan perkebunan Lampung, termasuk kopi, kakao, dan lada. Ketiga komoditas itu dinilai masih punya peluang besar untuk dikembangkan melalui pengolahan produk di daerah asal.
Hilirisasi, menurut Mirza, tidak harus selalu mengandalkan industri berskala besar. Pengolahan bisa dimulai melalui unit usaha di desa yang disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku, kemampuan sumber daya manusia, teknologi, dan kebutuhan pasar.
"Pengolahan dapat dimulai melalui unit usaha di desa yang disesuaikan dengan ketersediaan bahan baku, kemampuan sumber daya manusia, teknologi, dan kebutuhan pasar," ujarnya.
Dengan pola itu, manfaat ekonomi tidak hanya diterima petani sebagai penghasil bahan baku. Peluang usaha juga terbuka di bidang pengolahan, pengemasan, distribusi, dan pemasaran.
Dalam ekosistem tersebut, generasi muda menempati posisi strategis. Mereka dapat mengambil bagian melalui penguasaan teknologi, pengembangan produk, inovasi usaha, dan pemanfaatan pemasaran digital.
"Petani menghasilkan bahan baku, sementara anak-anak muda bisa mengembangkan pengolahan dan pemasarannya. Dari situ akan muncul usaha baru dan lapangan kerja di desa," jelas Mirza.
Pembagian peran itu dinilai lebih realistis daripada menuntut petani mengerjakan seluruh rantai produksi sendirian. Pemuda masuk di hilir, mengolah dan memasarkan, sementara petani fokus di hulu.
Mirza menegaskan keberhasilan hilirisasi membutuhkan ekosistem yang terintegrasi. Mulai dari pelatihan keterampilan, akses pembiayaan, teknologi pengolahan, hingga kepastian pasar.
Penyediaan peralatan saja tidak cukup tanpa kemampuan mengelola usaha dan memasarkan produk secara berkelanjutan. Pendekatan itu diharapkan membuat desa tidak lagi berhenti sebagai pusat produksi bahan mentah, tetapi berkembang menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif.
Bagi Pemerintah Provinsi Lampung, penguatan hilirisasi dan pemberdayaan pemuda menjadi bagian dari upaya mewujudkan visi Lampung Maju Menuju Indonesia Emas. Mirza berharap generasi muda mampu melihat potensi daerahnya sebagai peluang membangun usaha dan masa depan.
Rembuk Nasional Pemuda Indonesia ke-III resmi dibuka oleh Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa. Forum ini menjadi ajang pertukaran gagasan antara pengurus pusat dan daerah mengenai kontribusi generasi muda bagi pembangunan bangsa.