LAMPUNG — Kepala Dinas Kebudayaan DIY, Dian Lakshmi Pratiwi, menegaskan PWB 5 adalah wahana edukasi publik. Sejak UNESCO menetapkan Tradisi Pencak Silat sebagai warisan budaya tak benda pada 12 Desember 2019 di Bogota, Kolombia, tanggung jawab menjaga seni beladiri ini menjadi krusial.
"Pencak Silat adalah cermin jati diri Nusantara. Di dalamnya terkandung falsafah hidup yaitu budi pekerti luhur, rasa hormat kepada sesama, keberanian membela kebenaran, serta keharmonisan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta," ungkap Dian dalam konferensi pers di Pendapa Dinas Kebudayaan DIY, Rabu (26/8/2026).
PAS Yogyakarta sendiri lahir dari ruang diskusi kebudayaan yang hangat, mengedepankan asas persaudaraan (paseduluran), keterbukaan, dan kesetaraan. Komunitas ini berupaya melawan pergeseran persepsi yang menganggap pencak silat hanya olahraga prestasi semata.
Acara berlangsung selama tiga hari penuh dengan pembagian lokasi yang berbeda. Pada 27-29 Agustus 2026, rangkaian utama digelar di jantung Kota Yogyakarta serta kawasan Desa Turi, Sleman.
Titik Nol Kilometer Yogyakarta menjadi venue untuk pergelaran puncak bertajuk Sabetan Mencak. Sementara itu, Desa Turi Sleman menjadi lokasi Camp Pencak Wisata Budaya 5 yang lebih intim dan edukatif.
Penyelenggara merancang agenda yang memadukan edukasi, kompetisi artistik, hingga pertunjukan seni. Berikut mata acara yang bisa diikuti pengunjung:
Informasi mengenai tiket masuk dan pendaftaran untuk workshop atau lomba belum dirilis secara resmi. Untuk kabar terbaru, wisatawan dapat memantau kanal resmi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY atau akun media sosial Komunitas PAS Yogyakarta.
Penyelenggaraan PWB 5 mendapat dukungan penuh dari Dinas Kebudayaan DIY melalui alokasi Dana Keistimewaan. Dukungan ini mencakup fasilitas sarana prasarana dan pengayoman bagi komunitas pelestari budaya.
Keunikan PWB 5 terletak pada strategi diplomasinya. Suryo, perwakilan PAS, menyebut Yogyakarta sebagai Kota Pelajar memiliki aset besar: mahasiswa asing dari berbagai negara, khususnya di UGM.
"Menjadikan mereka sebagai 'duta kebudayaan' yang mengerti dan mengagumi nilai-nilai pencak silat adalah strategi jangka panjang dalam membawa kearifan lokal Nusantara ke panggung dunia," ujarnya.
Acara ini juga menjadi ruang regenerasi. Lomba koreografi anak dan lomba mewarnai dirancang untuk menanamkan kecintaan pada pencak silat sejak dini, memastikan estafet pelestarian budaya berlanjut ke generasi berikutnya.
Bagi wisatawan yang merencanakan liburan akhir Agustus 2026, PWB 5 menawarkan pengalaman budaya yang jarang ditemukan di tempat lain. Anda bisa menyaksikan perpaduan antara tradisi, seni, dan semangat kebangsaan dalam satu lokasi. Durasi ideal untuk mengikuti acara ini adalah dua hari—satu hari untuk menikmati suasana Desa Turi dan satu hari lagi untuk menyaksikan puncak acara di Titik Nol Kilometer.