BANDARLAMPUNG — Lulusan pondok pesantren di Lampung Barat tak boleh hanya unggul dalam ilmu agama. Mereka juga harus mengantongi ijazah pendidikan formal sebagai bekal bersaing di dunia kerja.
Hal itu ditegaskan Sekda Lampung Barat Nukman saat menghadiri Haflah Akhirussanah di Pondok Pesantren Miftahurrohmah II. Menurutnya, integrasi kurikulum diniah dan formal menjadi kunci agar para santri memiliki jenjang karier yang setara dengan lulusan sekolah pada umumnya.
Santri Harus Punya Ijazah Formal
"Jangan hanya pintar mengaji dan agama. Santri juga harus pintar pendidikan formal, supaya punya ijazah," ujar Nukman dalam sambutannya, Senin lalu.
Ia menambahkan, dengan memiliki ijazah formal, para lulusan pesantren mendapatkan kesempatan yang sama dalam melanjutkan pendidikan atau melamar pekerjaan. Hal ini dinilai penting di tengah persaingan sumber daya manusia yang semakin ketat.
Pesantren sebagai Pusat Pembinaan Umat
Nukman memberikan apresiasi atas peran strategis pesantren dalam membangun SDM. Menurutnya, pesantren telah terbukti melahirkan generasi yang kuat ilmu agama, matang akhlak, cinta tanah air, serta konsisten menjaga nilai keislaman dan kebangsaan.
Ia memandang Haflah Akhirussanah bukan sekadar seremoni, melainkan bentuk syukur atas keberhasilan santri menyelesaikan proses pendidikan.
Target 5 Tahun ke Depan: Seluruh Santri Dapatkan Pendidikan Formal
Pengasuh Pondok Pesantren Miftahurrohmah II, Abdul Habi Harianto, menyatakan komitmen untuk mengintegrasikan kurikulum diniah dengan pendidikan formal.
"Kami ingin Miftahurrohmah II menjadi pusat pembinaan umat yang rahmatan lil alamin dan melahirkan kader dakwah yang berkualitas. Target kami lima tahun ke depan, seluruh santri mendapat pendidikan diniah sekaligus menempuh pendidikan formal berijazah," kata dia.
Pihak pesantren juga akan terus memperkuat aspek ilmu, akhlak, dan keterampilan praktis. Abdul Habi menambahkan, hal itu dilakukan agar para santri siap menghadapi tantangan zaman dan berkontribusi nyata bagi pembangunan di Kabupaten Lampung Barat.